BAB II

MENJAGA LISAN DARI UACAPAN YANG BURUK

A.    QS Al-Furqān (25): 63

 

وَعِبَادُ الرَّحْمَـٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَـلَامًا

Artinya: “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu ialah orangorang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orangorang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan ‘salam’.

Ayat ini menggambarkan ciri khas “hambahamba ArRahmān”—seorang muslim yang beriman dan berakhlak mulia, antara lain:

1.      Berjalan dengan rendah hati: Tidak sombong, tidak dibuatbuat, penuh ketenangan

2.      Menanggapi orang jahil (bodoh) dengan baik: Bila disapa atau dihina oleh orang kasar, mereka tidak membalas dengan kata setimpal, tetapi justru menjawab dengan “salam”—ungkapan kedamaian, keselamatan

B.     Tafsir

Tafsir Ibnu Katsīr: Menjelaskan rendah hati (tawadhu’) dalam bentuk langkah yang agung, tidak dibuatbuat. Dan saat dihina, mereka memberi salam sebagai bentuk pemaafan dan kasih sayang—mirip sikap Rasulullah , yang semakin diserang semakin santun

Tafsir Kemenag & AlSa’dī: Menekankan bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan mencegah konflik, dan bentuk akhlak yang sangat mulia—ucapan “salam” mengandung keselamatan dari dosa, menunjukkan kematangan akal dan iman kuat

C.    Dalil Tambahan & Penjabaran Etika Lisan

1.      QS Fussilat (41): 34–35

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang permusuhan antara kamu dan dia menjadi seperti teman yang setia.”

Menekankan membalas dengan kebaikan dapat memulihkan hubungan

2.      Hadis Rasulullah (dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir):

Rasul bersabda tentang seorang yang mencaci, lalu orang yang dicaci menjawab dengan “'Alaikas salam”; malaikat kemudian membela orang yang menjawab dengan baik dan berkata—“Engkau yang berhak dicaci.” Ini menunjukkan pentingnya kesantunan lisan

 

 

 

D.    Manfaat Menjaga Lisan Berdasarkan Ayat Ini

1.      Meredam konflik, mencegah permusuhan berkepanjangan.

2.      Membangun citra positif, dihormati karena santun dan bijaksana.

3.      Mendapat cinta Allah, sebagai lambang takwa dan kemuliaan akhlak.

4.      Mendatangkan keberkahan, karena salam adalah doa keselamatan.

5.      Contoh konkret kepribadian unggul, meniru akhlak Rasulullah .

E.     Contoh-contoh Praktis

1.      Saat ada yang mengejek atau menghina, kita menjawab, “Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua,” bukan balas hinaan.

2.      Di kelas, saat teman merendahkan, jawab dengan senyum dan ucapan lembut seperti, “Wa’alaikum salam,” atau “Semoga hari kamu menyenangkan.”

3.      Saat di media sosial diprovokasi, tetap tenang, jangan membalas dengan komentar kasar—tetap positif atau cukup diam dengan santun.